Jumat, 12 Juli 2013

Home » » Contoh Cerita Pendek (Cerpen) Bahasa Indonesia Bertemakan Nilai Kehidupan

Contoh Cerita Pendek (Cerpen) Bahasa Indonesia Bertemakan Nilai Kehidupan

cuma mau ngeshare cerpen buatan ane nih gan, berminggu-minggu ngerjain cerpen ini buat tugas bahasa indonesia, maaf ya kalo jelek, kalo bisa sih judulnya diganti aja gan, kurang greget hehe

Harga Diri Di Atas Gorengan




P
agi hari terlihat sibuk dengan suara wanita setengah baya yang sedang memukul-mukul bambu sambil menawarkan apa yang dijualnya kepada anak-anak sekolah dasar yang menunggu bel masuk sekolah. Senyuman selalu ia lontarkan ketika menerima setiap lembaran uang hasil kerja kerasnya. Seketika senyumnya membesar melihat gadis kecil yang membawa sebuah tas lusuh dan muka yang muram. Wanita itu kemudian menyapa gadis kecil tadi yang merupakan anak semata wayangnya yang dia nafkahi tanpa seorang ayah. Gadis bernama Lina itu menoleh ke  arah temannya seakan tidak mendengar sapaan dari sang ibu. Dengan penuh keraguan sang ibu menurunkan tangannya dan hanya bisa memperhatikan Lina dari jauh.
            Anak-anak sekolah dasar tidak terlihat lagi ketika bel tanda masuk kelas selesai berbunyi. Tak terlihat siapapun di halaman sekolah, hanya satpam dan pemotong rumput. Dan juga terlihat wanita tadi, yaitu Wati . Wati adalah wanita setengah baya si penjual gorengan sekaligus wanita yang mengeluarkan Lina dari perutnya dan dirawatnya sejak kecil. Ia masih terlihat sibuk untuk mempersiapkan dagangannya, terlihat sangat seru dan menyenangkan baginya. Yang ada di pikirannya hanyalah Lina, dan dia masih terherankan oleh kejadian tadi. Memang belakangan ini Lina selalu cuek dan jutek terhadap ibu kandungnya sendiri, “Apa mungkin karena bau badanku?” pikir Wati sambil menciumi badannya dari atas sampai bawah.
            Jam sekolah yang terletak di atas menara sekolah dengan gaya renaisans kuno itu mengeluarkan bunyi yang klasik, menandakan jam istirahat bagi para anggota sekolah. Anak-anak sekolah dasar berlari keluar kelas dengan wajah tanpa beban. Mereka mulai mempergunakan waktu istirahatnya itu untuk bermain, belajar, mengobrol juga makan siang. Jam istirahat memang seperti kasur untuk melepaskan rasa stress dan lelah, dan digunakan dengan keceriaan dan kebahagiaan. Tetapi tidak bagi Lina, ia termenung sendiri, mungkin hanya ditemani pohon besar yang meneduhinya. Terlihat murung dan lelah, seperti orang yang sudah bosan dengan hidup ini, atau mungkin kehidupan yang sudah bosan dengan cerita yang dialami Lina? Ah sudahlah. Teman-teman Lina hanya lewat dan mengacuhkannya, membuat Lina bertambah murung. Adapun salah satu dari teman Lina yang datang menghampiri, temannya itu memang anak dari Pengusaha pabrik panci terkenal, ia bernama Cici. Lina mengangkat kepala dan seperti akan tersenyum. Tetapi teman Lina itu malah berkata, “Eh anak gorengan, ngapain disana? Ga punya temen ya? Temenan sama gorengan sana huahaha”. Lina tentu sangat kesal dan membalas, “Perlu kamu tau ya tukang gorengan itu bukan ibuku! Amit-amit deh punya ibu bau bakwan gitu”, “Alaaah bohong aja kamu, jelas-jelas kamu tuh yang bau bakwan huahaha” balas teman Lina dengan tertawa mengejek dan langsung pergi.
            Di lain tempat, Wati sedang dikerubungi anak sekolah yang ingin menukar uang dengan gorengannya. Hanya perlu seribu rupiah untuk mendapatkan dua buah gorengan yang terkenal karena rasanya itu. Wati melayani para customer-nya selalu dengan penuh senyuman. Lina yang sudah berhenti menangis melihat senyuman Ibunya dari jauh, dengan ekspresi risih yang tidak enak dilihat. Untung saja Wati tidak menoleh ke anaknya itu, karena mungkin dia akan sakit hati melihat ekspresi anak terhadap ibunya seperti itu. Lina sangat kesal karena merasa dipermalukan oleh Ibunya. Dia tiba-tiba mengambil batu kerikil dan langsung dilemparkan ke arah ibunya. Seperti anak kecil kebanyakan, apa yang dilakukan terkadang tidak jelas, ia langsung berlari setelah kerikil itu hampir mengenai ibunya. Wati menoleh dan melihat anaknya berlari.
            Indonesia bagian tengah telah menunjukan pukul 12 siang, warga SDN 4 Samarinda harus kembali ke rumahnya. Para murid berlari keluar kelas, hanya Lina yang berjalan pelan. Wati menunggu sembari membereskan dagangannya usai berjualan. Lina berjalan menghampiri Wati dengan tatapan risih dan berkata, “Cepet Bu, lama amat ngurusin gitu doang.” Ibunya hanya bisa membalas dengan ceria, “Iya, sebentar nak, habis laku keras nih,” “Laku keras mempermalukan Lina ya Bu?” kata Lina menggerutu. “Kok ngomongnya gitu sih nak? Ini kan pekerjaan Ibu, demi kehidupan kita Lin,” kata Wati heran. “Suka-suka Lina, mulut-mulut Lina, udah ah cepetan Bu”, balas Lina dengan sangat risih ke Ibunya. Wati mengelus dada dan menahan kesabarannya. Dia tau kalau anaknya sangat malu mempunyai Ibu tukang gorengan seperti dirinya. Seorang Ibu tetap harus memberi kasih sayang terhadap anaknya walaupun anaknya menerima atau menolak kasih sayang itu.
            Mereka berdua berjalan kaki menuju rumah yang memiliki jarak 120 langkah dari sekolah. Sang Ibu terlihat sangat repot membawa barang dagangannya yang cukup berat, sedangkan anaknya hanya berdiam seakan tak peduli. Ketidakpedulian Lina terus berlanjut sampai akhirnya mereka sampai pada rumah gubuk di kolong jembatan, terlihat sampah-sampah menghiasi halaman rumah mereka. Dengan santai Lina melempar tasnya dan menjatuhkan diri di kasur kapuk yang kaku. Ibunya menata barang daganganya untuk dibawa esok hari. Sambil menata, Wati memecahkan keheningan dengan bertanya, “Bagaimana di sekolah? Kok sendirian mulu, bergaul dong sama teman-temannya”. Lina terdiam, kekesalannya telah kembali dan langsung mencela, “Ini tuh semua gara-gara Ibu, kalau saja Ibu tuh kerjanya jadi Direktur atau Manager kan enak, ga miskin gini, dan pasti temen Lina banyak kaya Cici, Ibu tuh cuma malu-maluin Lina doang!”. “Astaga nak, kamu ngga boleh kaya gitu, ini tuh satu-satunya cara agar kita bisa bertahan hidup nak, Ibu janji akan berusaha bikin kamu sukses biar ga kaya Ibu gini nak, kalo engga jualan ini kita mau makan apa?” balas Wati dengan setengah sedih. Mereka terdiam sejenak dan Lina berteriak, “Alaah! Ibu tuh cuma ngomong doang! Ibu sengaja kan bikin Lina malu biar ga punya temen, pokoknya Lina gamau Ibu jadi Ibu Lina, mendingan Lina pergi aja!”. Wati terdiam sedih sekaligus kaget mendengar itu, kasih sayang yang diberikan kepada anak semata wayangnya dibalas dengan kebencian. Lina mengambil tasnya dan langsung berlari keluar rumah menuju jalan raya. Wati kaget dan langsung mengejarnya, dia hanya bisa memanggil nama anaknya, “Lina...! Lina, maafkan ibu nak...!”. Lina terus berlari melintasi jalan raya yang sepi, tiba-tiba sebuah motor besar berwarna hitam melaju kencang menghampiri Lina, Lina terserempet motor itu dengan sangat kencang, dengan tanpa kepedulian pengendara terus melaju pergi. Darah bercucuran deras, Wati yang menjadi saksi langsung kejadian itu menangis keras, dia panik meminta tolong berharap ada orang yang akan membantunya.
Beruntunglah ada seorang pria berlari menghampiri, Wati memintanya untuk memanggil ambulan, pria itu mengambil handphone-nya dan buru menelpon ambulan. Lina sudah sangat kritis sampai akhirnya ambulan datang membawanya, Wati terus berkata pada sopir ambulan, “Cepat pak, tolong anak saya pak....!”. Mereka tiba di rumah sakit dan Lina langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat, ibunya hanya bisa menunggu dan panik. Setelah beberapa lama, sang dokter keluar ruang UGD Lina dan langsung ditanyai oleh Wati, “Bagaimana kondisi anak saya dok? Apa yang harus saya lakukan?”. “Maaf bu, anak ibu sangat kekurangan darah, harus ada yang mendonorkan secepatnya, kalau tidak anak anda tidak akan tertolong”, jawab Dokter dengan pasrah. “Ambil darah saya dok, ambil semua darah saya yang dibutuhkan anak saya agar anak saya tetap hidup dok,” kata Wati sambil manangis keras. Dokter hanya mengangguk dan harus tetap melakukan tugasnya. Lina sangat banyak kekurangan darah, maka Wati harus mengalami apa yang telah dialami Lina untuk mendonorkan darah pada anaknya itu. Setelah saat-saat yang menegangkan berlalu, pihak rumah sakit berhasil mendonorkan darah Wati kepada Lina. Lina kembali sehat, dia terbangun dan bertanya kepada suster, “Dimana Ibuku? Apa yang telah terjadi?”. Suster hanya terdiam, melihat itu Lina langsung mencari-cari ibunya dan sampai akhirnya dia tiba di sebuah kamar. Ibunya terbaring di kasur, Lina langsung berlari mengahampiri dan memanggil Ibunya, “Ibu... Ibu bangun dong, Kita dimana bu?”. Mata ibunya masih tertutup, Lina bertanya kepada dokter di sebelahnya, “Ibu saya kenapa dok? Apa yang sudah terjadi?”. Dokter menjawab, “Kamu mengalami kecelakaan parah nak, lalu ibumu mendonorkan semua darahnya padamu, dan sekarang ibumu yang kekurangan darah dan....”, “Dan apa dok?”, tanya Lina heran. “Ibumu telah meninggalkan kita nak, dia rela berbuat itu agar kamu tetap hidup”, jawab dokter dengan berat hati. “Ibu? Kenapa dok? Tolong ibu saya dok! Tolong ibu saya!”, Lina menangis lebih keras daripada ibunya tadi, dia telah sadar betapa besar kasih sayang Ibu kepada anaknya, Lina sangat menyesal dan hanya bisa menangis.
Dia menjadi anak sebatang kara, dia adalah korban dari kebencian. Lina berlari keluar rumah sakit sambil menangis, dia hanya berjalan-jalan sepanjang trotoar menuju rumah gubuknya. Tangisannya tidak berhenti, sampai akhirnya dia berpikir, dia menyadari ada sesuatu yang harus dilakukannya, apa yang diinginkan ibunya adalah untuk menjaga dia tetap hidup, maka Lina harus memanfaatkan hidupnya untuk sesuatu yang berguna. Dia sampai ke rumah gubuknya dan menata dagangan ibunya, dia bertekad untuk berjualan gorengan seperti ibunya. Dengan dorongan batin yang luar biasa, dia tidak malu untuk berjualan gorengan. Keesokan harinya dia pergi ke sekolah tanpa seragam dan tas, melainkan dagangan gorengan ibunya. Ejekan yang datang kepadanya berubah menjadi semangat.
Tahun demi tahun berlalu, Lina telah berusia genap 20 tahun, dan dia tetap berjualan gorengan. Sampai akhirnya dia mempunyai modal untuk membuat usahanya itu semakin besar. Dia membuat perusahaan besar untuk usaha gorengannya. Dengan ratusan cabang dan jutaan karyawan yang tersebar di Indonesia. Milyaran gorengan dijual setiap harinya, ratusan juta gorengan lainnya diekspor ke beberapa negara. Lina telah sukses, dia yakin telah membanggakan ibunya. Kemudian Lina pergi ke makam ibunya, dia duduk di sebelah kuburannya, dan berkata, “Aku telah berhasil bu, ibu tetap tenang disana ya, aku sayang ibu”.

5 Komentar:

Keren ceritanya,I Like It

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

cerpen ini sangat menyentuh, keren, dan bagus, aku suka, bisa terinspirasi dari cerpen ini (karena saya juga suka menulis),good job, terus berkarya. :)

INI BUKAN CERPEN... INI CERJANG!, CERITAPANJANG

ceritanya panjang amat -_-

Poskan Komentar

Subscribe My Article via Email

Enter your email address:

Ikomang Sena

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More